Bagaimana Bila Terpaksa Berutang Untuk Kebutuhan Lebaran?

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan seputar kedatangan bulan Puasa Ramadan bersambung ke Hari Raya Lebaran memang tidak sedikit. Banyak orang yang kelimpungan menutup kebutuhan-kebutuhan seputar perayaan tahunan tersebut.

Walaupun sudah ada Tunjangan Hari Raya, acapkali THR tersebut juga tidak mampu mencukupi beragam kebutuhan hari raya akibat laju kenaikan harga barang yang luar biasa. Kenaikan harga bahkan telah terjadi jauh hari sebelum Ramadan.

Inflasi harga, kebutuhan yang membludak namun tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai, mendorong banyak orang terpaksa berutang demi menutup kebutuhan. Apakah langkah ini dibenarkan?

Sebenarnya, prinsip keuangan yang sehat tidak menyarankan Anda untuk berutang bila tidak sangat terpaksa.

Bila saat ini Anda tengah menimbang opsi berutang untuk menutup kebutuhan seputar Ramadan, Mudik dan Hari Raya, perhatikan dulu hal-hal berikut ini:

1. Periksa dulu anggaran

Sebelum memutuskan berutang, pastikan Anda sudah memeriksa pos anggaran mana saja yang membuat kebutuhan keuangan Lebaran menjadi membengkak. Periksalah satu per satu dan lakukan penghematan yang memungkinkan. Misalnya, bila pos pembelian oleh-oleh

Lebaran sebenarnya tidak memiliki sumber dana, Anda tidak perlu memaksakan diri membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Berlebaranlah sesuai kemampuan saja.

Begitu juga dengan anggaran mudik.

Bila pulang ke kampung halaman ternyata sangat menguras uang Anda sampai memaksa Anda berutang, ada baiknya Anda menimbang ulang rencana tersebut.

Bersilaturahmi saat ini bisa Anda lakukan melalui berbagai medium, memakai video call atau telepon, mungkin sudah memadai.

2. Berutang boleh, asalkan...

Anda sudah berupaya menghemat pengeluaran dengan memangkas pos-pos biaya yang tidak perlu. Namun, ternyata sumber dana yang Anda miliki tetap tidak mampu menutup kebutuhan seputar Hari Raya. Menimbang opsi berutang mungkin terbersit dalam pikiran Anda.

Bila memang kondisinya sangat terpaksa, Anda bisa mempertimbangkan berutang untuk menutup kebutuhan. Namun, keputusan mengambil pinjaman juga harus memperhatikan beberapa hal antara lain, pastikan Anda memang memiliki rencana pelunasan yang jelas dan pasti.

Misalnya, Anda berutang sekian juta rupiah untuk mudik ke kampung halaman. Pastikan Anda sudah memiliki sumber dana pelunasan ketika utang Anda jatuh tempo kelak. Sebagai contoh, Anda berutang bulan Juni ini untuk kebutuhan Hari Raya dan Anda berencana melunasi pinjaman bulan September ketika bonus dari perusahaan tempat Anda bekerja dijadwalkan cair.

Bila pembayaran pinjaman yang Anda ambil adalah berupa cicilan, pastikan juga nilai cicilan tersebut tidak melampaui 30 persen dari penghasilan rutin Anda.

3. Manfaatkan aset yang mudah dilikuidasi

Opsi pinjaman ada banyak sekali di pasar. Mulai dari kredit tanpa agunan, gadai barang sampai menjual barang yang likuid seperti emas atau perhiasan. Bila Anda saat ini memiliki aset yang mudah dilikuidasi seperti perhiasan emas, Anda bisa menimbang opsi menggadaikan perhiasan untuk mendapatkan pinjaman.

Bila harga emas saat ini tengah tinggi, Anda bisa menjual perhiasan untuk merealisasikan keuntungan simpanan emas. Langkah lain, cairkan hasil pengembangan dana deposito Anda selama ini.

Sebaliknya, bila Anda tidak memiliki aset yang bisa dilikuidasi, Anda bisa menimbang pinjaman tanpa agunan dengan bunga murah. Tentu dengan tetap memperhatikan prinsip sehat dalam berutang.

Source : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/06/18/220000126/bagaimana.bila.terpaksa.berutang.untuk.kebutuhan.lebaran.

Bagaimana Bila Terpaksa Berutang untuk Kebutuhan Lebaran?
Sambut Lebaran, 6 Tips dan Trik yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Memilih Parsel
Bolehkah Istri Membayar Zakat dari Utang karena Suaminya Lupa Titipkan Uang?