DPR: Industri Keuangan Syariah Indonesia Harus Ungguli Malaysia

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPR RI Fadel Muhammad menyatakan, Indonesia seharusnya dapat menjadi pusat keuangan syariah dunia. Pasalnya, Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.

Akan tetapi, target itu tidak mudah untuk dicapai. Bagaimana tidak, Indonesia baru mengenal keuangan syariah pada awal era 1990-an.

Dibandingkan negara tetangga, yakni Malaysia, tentu Indonesia tertinggal jauh dalam hal penetrasi keuangan syariah. Di negara itu, pasar keuangan syariah sudah begitu matang.

Fadel menuturkan, ada banyak juga tantangan yang harus dihadapi pemerintah, otoritas, dan institusi terkait untuk mencapai target menjadikan Indonesia pusat keuangan syariah papan atas dunia.

"Tantangannya kurang sosialisasi, sulit luar biasa. Untuk sosialisasi, ada Indonesia Sharia Finance Award misalnya," kata Fadel dalam pernyataan resminya, Kamis (15/6/2017).

(Baca: Ini Alasan Pembiayaan Macet Perbankan Syariah Cukup Tinggi)

 

Tantangan lainnya adalah penawaran produk syariah masih kurang kompetitif dibandingkan produk keuangan konvensional. Oleh sebab itu, industri keuangan syariah harus menghadirkan beragam produk inovatif agar bisa bersaing dengan industri keuangan konvensional.

"Sebagian besar modal yang dimiliki juga kecil. Dalam riset terlihat ekonomi dan keuangan syariah 77 persen masih terpusat di Jawa. Pembiayaan pun demikian, di Jawa dan Jakarta mendominasi," ungkap Fadel.

Oleh sebab itu, ia mendorong regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar melakukan sosialisasi secara masif mengenai keuangan syariah. Oleh karenanya, penambahan modal atau melakukan merger dapat dilakukan.

"Ketika saya di komisi XI ingin sekali membesarkan syariah, cuma masalah yang dihadapi modal. Kalau bisa digabungkan atau diinjeksi lagi modal, karena ternyata potensi untuk tumbuh sangat besar sekali," tutur Fadel.

Ia pun berharap industri keuangan syariah Indonesia dapat bersaing dan mengungguli Malaysia. Alasannya, Indonesia memiliki keunggulan berupa populasi umat Muslim yang besar.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2017, pangsa pasar keuangan syariah secara keseluruhan mencapai 5 persen dari total pasar industri keuangan.

Aset perbankan syariah sebesar 5,29 persen dari seluruh aset perbankan, sukuk negara mencapai 16,45 persen dari total surat berharga negara, lembaga pembiayaan syariah sebesar 7,27 persen dari total pembiayaan, lembaga jasa keuangan khusus sebesar 10,11 persen, dan lembaga keuangan mikro syariah sebesar 23,72 persen.

(Baca: Harapan Perbankan Syariah Kepada Pimpinan OJK Terpilih)

Kompas TV Pemerintah akan menerbitkan sukuk ritel alias surat utang ritel syariah 4 Februari ini sampai 2 Maret mendatang. Investasi mana yang lebih menarik, sukuk ritel ataukah reksadana? Sudah ada perencana keuangan prita ghozie untuk membahasnya.

 

 

Source : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/06/16/063310126/dpr.industri.keuangan.syariah.indonesia.harus.ungguli.malaysia

DPR: Industri Keuangan Syariah Indonesia Harus Ungguli Malaysia
Sederet tantangan Indonesia jadi pusat keuangan syariah global